Morowali: Tambang, Budaya, dan Laut
Mungkin tidak banyak orang mengenal Kabupaten Morowali, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, apalagi mengenal wilayah Bungku sebagai wilayah yang menjadi pusat kegiatan Kabupaten Morowali dengan wilayah administratif ibukota bernama Kecamatan Bungku Tengah. Kali ini, kami diberi kesempatan menginjakkan kaki di Kabupaten Morowali, salah satu surga Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam luar biasa, baik potensi sumber daya alam fisik, sosial budaya, maupun pariwisata.
1. Potensi bahan tambang nikel.
Tidak banyak yang tahu juga bahwa Indonesia khususnya Kabupaten Morowali memiliki pabrik pengolahan nikel (smelter) yang merupakan smelter bijih nikel terbesar se Asia dan bahkan disebut-sebut bakal terbesar di dunia. Lokasi smelter tersebut berada di Kecamatan Bahadopi yang di dalam RTRW Kabupaten Morowali memang dialokasikan menjadi kawasan pertambangan dan industri.
Salah satu perusahaan (salah satu diantara belasan perusahaan) membangun smelter bijih nikel tahap I yang diresmikan sekitar bulan Mei 2015. Smelter tersebut dibangun dengan harapan mampu menyerap 5000 tenaga kerja baik tenaga kerja lokal maupun asing dengan kapasitas produksi 300.000 ton pertahun dan didukung PLTU 2x65 MW. Smelter tahap II juga telah rampung dibangun di bulan Desember 2015 dengan kapasitas 600.000 ton dan dukungan PLTU sebesar 2x150 MW. Sementara itu, smelter tahap III direncanakan selesai pada akhir tahun 2017 dengan target kapasitas 300.000 ton dan dukungan PLTU sebesar 300 MW. Itu baru satu perusahaan saja sudah memiliki 3 smelter, belum terhitung perusahaan lain.
Pabrik pengolahan nikel ini harapannya dapat memberikan nilai tambah untuk daerah, sehingga pemasukan dari eksport tidak lagi didominasi bahan mentah hasil tambang yang notabene bernilai rendah melainkan sudah menjadi barang setengah jadi yang nilainya bisa 40 kali lipat. Untuk selanjut target kedepan adalah menciptakan barang jadi langsung dari Kabupaten Morowali yang siap ekspor dengan membangun industri stainless steel cold rolled coils (CRC) serta industri steel hot rolled coils (HRC).

Nah, bukan main-main memang kabupaten satu ini. Dengan adanya potensi sumber daya tambang nikel yang melimpah serta didukung regulasi pemerintah yang mewajibkan pembangunan smelter bagi perusahaan-perusahaan tambang secara kasat mata akan semakin memajukan Kabupaten Morowali.
Untuk selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan perkembangan industri pertambangan dengan lingkungan, jangan sampai terlena dengan kekayaan sumber daya tambang yang ada dengan mengeksplorasi dan mengekpoitasi sebesar-besarnya sehingga harapan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dicita-citakan bersama menjadi berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan yang semakin rusak dan menghasilkan penyesalan dikemudian hari oleh masyarakat di Kabupaten Morowali.
2. Potensi Sosial Budaya
Kabupaten Morowali memiliki keanekaragaman budaya yang terdiri dari beberapa suku seperti: Mori, Bungku, Bugis, Kaili, dan suku-suku pendatang yang saling membaur satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan sehari – hari masyarakat Morowali mempunyai aktivitas beraneka ragam, namun pekerjaan yang dominan adalah nelayan dan petani.

Satu hal menarik yang dijumpai ketika berada di Kabupaten Morowali adalah aktivitas di masjid yang tidak pernah sepi. Khususnya pada saat dimulainya shalat 5 waktu, hampir semua masjid di Kabupaten Morowali penuh dengan jamaah. Hal itu terkait dengan program "Morowali Berjamaah" yang dicanangkan oleh Bupati yang mewajibkan shalat berjamaah di masjid dengan harapan revolusi mental bagi masyarakat Kabupaten Morowali yang dimulai dari aktivitas di masjid-masjid.Sepenggal pengalaman berkeliling di penjuru tanah air, mungkin baru di Kabupaten Morowali saja yang menerapkan revolusi mental meramaikan masjid yang didukung perintah langsung dari Bupati. Hal menarik lainnya adalah pagelaran festival bajo, yang bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan asli Suku Bajo sekaligus mempromosikan pariwisata kabupaten.
3. Potensi pulau-pulau kecil.
Kabupaten Morowali seperti wilayah lainnya di Indonesia Timur khususnya di Pulau Sulawesi memiliki kekayaan alam pulau-pulau kecil yang sangat luar biasa. Tidak dapat dipungkiri bahwa Pulau Sulawesi memiliki berbagai macam spot menarik terkait dengan kepesisiran dan pulau-pulau kecil.
Berbicara pulau-pulau kecil di Kabupaten Morowali tidak lepas dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Morowali yang secara umum terletak di gugusan kepulauan Sombori (Kecamatan Menui Kepulauan) dan gugusan kepulauan di lepas pantai yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Bungku Pesisir.
Melalui perjalanan menyusuri pesisir laut dari Bungku Pesisir ke arah selatan menggunakan kapal kecil, akhirnya dengan perjalanan sekitar 3 jam mengantarkan ke wilayah permukiman suku Bajo di gugusan Pulau Sombori. Pintu gerbang untuk mengeksplorasi gugusan pulau Sombori adalah Desa Mbokita (Ambokita) yang dihuni oleh para nelayan Suku Bajo.
Sebagian besar masyarakat Suku Bajo adalah nelayan ulung dan tangguh yang hidup bernomaden di atas perahu. Beberapa lokasi di pantai berpasir yang tersebar di pesisir kabupaten Morowali terdapat titik-titik lokasi Suku Bajo bermukim. Sebagian besar pula lokasi tersebut tidak dapat diakses melalui jalan darat, karena toh masyarakat Suku Bajo lebih memilih kemudahan akses ke arah laut sebagai tempat bermata pencaharian. Satu hal yang tercermin dari masyarakat suku Bajo pada saat berkunjung ke Desa Mbokita adalah antusiasme mereka dalam menyambut pendatang atau pengunjung. Senyum dan ramah tamah masyarakatnya sungguh mencerminkan nilai-nilai hidup nenek moyang Indonesia yang tetap terjaga sampai sekarang.

Selain masyarakat dan budaya Suku Bajo, hal lain yang tertangkap mata adalah keindahan gugusan pulau Sombori. Gugusan pulau ini seperti perpaduan 3 tempat, yaitu perpaduan Raja Ampat, Wakatobi dan Bunaken. Apabila menginap di Desa Mbokita bisa menjadi hal yang tidak terlupakan, menikmati indahnya alam kepulauan, bercengkerama dengan masyarakat Suku Bajo yang ramah, beraktivitas di tengah pulau terpencil dengan segala keterbatasannya, membawa kita pada pikiran yang jernih dan lepas dari penatnya kehidupan perkotaan.
Sekelumit cerita menapakkan kaki dan menghirup udara Morowali dengan 3 hal yang tertangkap oleh mata dan hati tersebut menimbulkan pertanyaan lebih mendalam.. apakah tambang, budaya, dan lingkungan pulau-pulau kecil dapat berjalan dan berkembang berdampingan seterusnya? Berkembangbiaknya "semut" industri pertambangan yang semakin memadat seiring dengan terciumnya "gula" bernama nikel secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi lingkungan perairan laut. Smelter dengan target 5000 tenaga kerja lokal dan asing memiliki imbas terhadap tekanan penduduk asli dengan berbagai ragam budaya aslinya yang pasti bakal terdampak langsung dari konsekuensi logis proses akulturasi budaya. Laut dengan kekayaan ikan yang menjadi sumber penghidupan Suku Bajo selama puluhan tahun apakah akan selalu kaya seiring dengan tekanan aktivitas yang berlebihan dari darat khususnya pertambangan.
Semoga anak cucu kita dapat bisa menikmati Kabupaten Morowali yang maju dengan segala hiruk pikuk aktivitas pertambangan yang bekerja 24 jam, masyarakat permukiman kota dan desa yang sejuk agamis, rumah berpondasi kayu serta halaman laut yang jernih penuh dengan ikan, dan masyarakat suku lokal yang ramah dan tak terlupakan.

0 Komentar